TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Warga Merapi Keluhkan Seringnya Padam Lampu, Tokoh Pemuda Lahat Mahendra: Dimana Keberadaan Bupati Cik Ujang

Jatim Aktual, Lahat – Warga Merapi Area Kabupaten Lahat menjalankan ibadah bulan Ramadhan tanpa sinar lampu lantaran seringnya mati listrik. Hal itu dikeluhkan oleh warga setempat.

Video keluhan warga tersebar di group-group WhatsApp terkait seringnya mati lampu walaupun tidak turun hujan saat waktu buka puasa dan sahur menjadi bahan perbincangan di Medsos.

Sumber yang tidak diketahui namanya itu menyebutkan bahwa Lahat kaya dengan energi namun pihak PLN selalu mematikan aliran listrik yang membuat aktivitas warga terganggu terutama saat malam tiba.

BACA JUGA:  Mantum HMI Cabang Palembang minta Kapolri segera Copot kapolres Lampung Utara

Kejadian itu mendapat sorotan serius dari tokoh muda Lahat Mahendra Reza Wijaya. Menurutnya, masyarakat selalu menjadi korban karena kurangnya perhatian dari para pemimpinnya.

“Bulan yang penuh berkah ini, masyarakat berkumpul bersama keluarga menjalankan ibadah akhirnya terganggu karena ulah PLN yang sering mematikan aliran listrik,” kata Mahendra dalam keterangannya, Sabtu (25/3/2023).

“Kondisi seperti ini semestinya tidak terjadi seandainya pemimpinnya memberikan perhatian serius kepada rakyatnya sendiri,” lanjutnya.

BACA JUGA:  Ketua DPD RI: Pemerintah Harus Antisipasi Ancaman Krisis Pangan Dengan Langkah Kongkret

Mahendra menyebut PLN sangat merugikan masyarakat dengan seringnya mematikan listrik tanpa alasan yang jelas karena mereka mendapatkan aliran listrik dengan membayar.

“Mereka itu kan bukan gratisan menggunakan listrik. Bayar ke PLN masak dimatiin terus. Kasihan dong masyarakat,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Mahendra menyalahkan Bupati Cik Ujang yang tidak mampu menuntaskan masalah listrik di Lahat.

“Cik Ujang masalah listrik aja tidak mampu mengurusinya, gimana masalah yang lain. Masyarakat mendapatkan aliran listrik itu adalah hak yang harus dipenuhi,” tegasnya.

BACA JUGA:  Demo Depan KPK, Gagak Minta Ambil Alih Kasus PT Campang Tiga

Apalagi menurut Mahendra, Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dengan dasar batu baru diambil dari Lahat namun masyarakat sering dimatikan aliran listriknya oleh PLN.

“Kalau mau berpikir, Cik Ujang semestinya malu. Rakyatnya sampai mengeluh seperti itu. Padahal masyarakat tahu bahwa PLN itu butuh batu bara yang diambil dari Lahat,” terangnya.

“Masak yang punya batu bara namun masyarakatnya tidak bisa menikmati listrik dengan lancar. Kemana Cik Ujang itu?,” tutup Mahendra.